Ayah, sosok yang sering terabaikan. Ada hari Ibu, tapi kenapa gag ada hari Ayah? Banyak yang membicarakan tentang Ibu, tapi jarang ada yang membahas tentang Ayah. Ayah, seorang lelaki tangguh yang selalu bekerja keras membanting tulang siang malam. Seorang lelaki perkasa yang tak pernah kenal putus asa, yang selalu rela melindungi keluarganya. Ayah, memiliki peran penting tapi kadang terlalu kasat mata.
Jika dibandingkan dengan Ibu, mungkin kita sebagai anak tak terlalu dekat dengannya, dia yang selalu sibuk bekerja. Berangkat kerja pagi-pagi buta saat kita masih terlelap dan pulang larut malam saat kita tak lagi terjaga. Cintanya yang terlalu dalam hingga membuat kita tak begitu mengenalnya.
Bersyukur Ayah dan Ibu saya selalu berada di rumah, mereka selalu ada buat saya. Tapi kadang saya merasa iri jika ada teman saya yang bercerita tentang kedekatan mereka dengan Ayahnya, ayah mereka yang jauh dan sibuk bekerja diluar rumah tapi bisa sedekat itu. Sedangkan saya, Ayah saya selalu di rumah tapi kita tidak terlalu dekat. Minta duit buat balik ke Malang aja gag berani saya, selalu Ibu dan Ibu.
Saya tahu kalo Ayah sangat sayang sama kita, tapi Ayah adalah sosok yang sangat pendiam. Dia punya cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa sayangnya, entah itu apa. Perhatiannya, kasih sayangnya dan caranya melindungi selalu membuat saya merasa aman. Peran pentingnya tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Ayahku, Ayah juara satu diseluruh dunia. Kutipan itu yang paling saya suka, kutipan yang sangat membanggakan sesosok Ayah yang telah berjuang dan bangga terhadap kita. Menggambarkan sosok yang tiada pernah lelah, tiada akan letih memeras keringat untuk keluarga kecilnya. Sosok yang selalu ingin membuat kita bahagia dan bangga.
Ayahku, Ayah yang tiada duanya di dunia. Ayah yang selalu membuat saya kagum akan apa yang Ia lakukan. Tuhan, saya pernah meminta pada-Mu untuk mengirimkan seorang yang seperti dia. Yang akan mampu menjaga saya dan melindungi saya beserta keluarga kecil saya kelak, seorang yang tiada pernah lelah dalam hidupnya bersama saya. Dalam bagaimanapun kondisi saya saat itu, Amien!
Jaga dan sayangi Ayah dan Ibu kalian selagi masih ada dan bisa, kalian akan menyesal jika mengabaikan mereka. Ingat jasa-jasanya, kasih sayangnya, perjuangannya, dan semua yang telah mereka berikan pada kalian. Semarah apapun mereka tapi kalian aka selalu ada dalam setiap bait do’anya, semua untuk kalian. Kebahagian kalian…!
Saya? Siapa saya? Semua mengenal saya sebagai cewek tomboy yang gag suka dandan dan fashion, saya yang sangat cuek kalo masalah penampilan. Dandan selalu acak-acakan dan malah kadang terkesan kaya’ gembel, lebih baik begitu daripada saya susah payah dandan tapi malah kelihatan maksa dan bukan saya banget. Saya seperti itu bukan tanpa alasan.
Pertama, dari kecil saya selalu diperlakukan tidak sepenuhnya sebagai seorang anak perempuan. Tapi itu menurut saya, haha saya lebih menganggap saya sebagai cowok. Haha pernah cerita tentang jamannya masih mengandung saya dulu, katanya antara haha dan ayah saya saling debat tentang jenis kelamin anak mereka nanti. Haha saya ngotot kalo anak pertama harus cowok biar kelak bisa jagain adek-adeknya, tapi ayah saya maunya anak pertamanya cewek dengan tanpa alasan. Dan alhasil keluarlah seorang anak yang gag jelas jenis kelaminnya seperti saya ini, begitulah haha saya waktu cerita sama saya. -_-“ (sial banget nasib gue, sampek nyokap sendiri bilang kalo gue gag jelas gitu…!). Dan juga masalah pakaian yang gag pernah kenal sama yang namanya pakaian cewek, celana kaos celana kaos dari dulu, ck ck ck. Dan jadilah saya yang sangat tidak memperhatikan masalah pakaian, selama ada jins sama kaos tenanglah hidup saya. Apalagi jaket, puh mantap!
Kedua, selain dianggap saya juga diperlakukan seperti cowok. Contoh: Jika haha mau menyuruh saya untuk melakukan sesuatu yang sekiranya itu pekerjaan cowok pasti beliau bilang seperti ini, “ayo, katanya cowok. Masak gag bisa?” Dan jadilah saya yang selalu merasa kaya’ cowok seperti ini, gag pernah mau ngalah sama cowok. Mentang-mentang gue cewek terus gue gag bisa nglakuin apa yang dilakuin cowok? No way! Sekarang bukan jamannya wanita dijajah pria, tapi sekarang jamannya suami-suami takut istri. Kita sebagai seorang wanita sudah seharusnya berterima kasih sama Ibu Kita Kartini yang sudah berjuang untuk bisa menyetarakan derajat kaum wanita dengan kaum pria yang jaman dulu suka bertindak seenak udelnya sendiri. Sekarang kita bisa sekolah, coba kalo gag ada Ibu Kita Kartini masih aja kita bermesra-mesraan dengan tungku dapur setiap hari. Dan itu yang gag pernah saya lakukan selama ini, parah banget ini mah!
Ketiga, saya gag suka dianggap lemah. Sebagai seorang cewek tangguh saya gag suka kalo diremehin terus apalagi sama cowok, I can do what can you do! Saya gag suka kalo liat cewek yang dengan lemah bin pasrah disakiti sama cowok, secara lahir ataupun bathin. Gemes gue liat tu cewek, pengen gue samperin terus gue teriakin. Bego’ lo! Itu cowok bajingan, kenapa lo mau sama dia? Saya gag suka jadi feminine, cantik ataupun sexy. Bagi saya itu akan membuat kita terlihat lemah, make up itu bikin kita kelihatan gag berdaya. Kalian tahu banci kan? Mereka itu cowok, bahkan badan mereka keker. Tapi apa, mereka lemah gara-gara make up. Ada Satpol PP aja mereka pada lari kocar-kacir, mangkanya saya gag pernah suka pake’ make up. Kecuali kalo haha saya sudah bersabda, maka saya gag bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan muka saya ditambal sampai tebel kaya’ aspal. Saya baru mau pake’ bedak itu waktu semester 2, selama sekolah dulu saya gag pernah mau pake’ gitu-gituan. Gag mau pokoknya!
Selama ini yang ada dipikiran saya adalah bagaimana membuat saya terlihat keren, bukan cantik. Saya gag pernah peduli orang mau bilang saya canti apa jelek, yang penting orang berfikir kalo saya keren. Kata temen saya dulu, macho!. Gila ya saya? Memang, saya memang gila jadi gag usah heran. Saat melihat saya pasti orang ngira saya itu galak, jutek, judes, sangar dan sebutan-sebutan gag enak lainnya poko’e. Tapi coba kalian tanya teman-teman saya, mereka pasti bilang kalo saya itu konyol, gila, malah ada yang bilang kalo saya itu bertampang preman tapi hati Evi Tamala. Kalo yang ini gag usah didengarkan, itu sahabat saya sedang mabok waktu bilang gitu. Saya itu baik dah (glodak!).
It is my style
Dari lahir berlanjut ke masa balita, anak-anak, remaja, sampai gag dewasa-dewasa kayak gini saya gag punya pacar. Kalo dipikir-pikir siapa yang mau pacaran sama saya? who am I? Saya gag mau merubah tampilan saya dengan dandan jika hanya ingin mencari pacar, saya ingin seseorang yang mau menerima saya apa adanya bukan ada apanya. Karena wajah tidak akan bertahan lama, suatu saat kita akan jadi tua dan make up merk apapun gag akan bisa mengembalikan kecantikan kita seperti saat masih muda. Jiah, omongan saya udah kaya’ orang mabok gini. Meskipun haha selalu ngomel-ngomel buat nyuruh saya dandan dan “sedikit” merubah panampilan, saya gag mau. Saya diam aja, dalam hati saya tetap teguh dalam janji saya dan pendirian saya. This is me, the real me! Saya gag mau terlihat lemah didepan cowok, saya bukan cewek lemah seperti mereka. I am a wonder woman!
Sebagai mahasiswa sastra in English Department saya sangat senang sekali, meskipun dosen sastra di kampus saya terkenal killer dan saya juga yakin itu (hehehe peace ma’am, sir…) tapi saya senang aja berada disini. Yah, meskipun saya tidak terlalu mahir dalam bersastra ria apalagi sastra asing yang banyak datang dari daratan Eropa yang asing buat saya. Disinilah tempat untuk belajar lebiih banyak tentang karya-karya sastra Eropa tersebut, disinilah tempat kita mencari tahu tentang sastrawan-sastrawan terkenal dalam dunia sastra. Datang dengan sedikit pengetahuan tentang sastra dan berlalu dengan banyak ilmu tentang sastra, menganalisa sampai mengkritik karya sastra. Ouw, itu masih jauh sekali untuk mampu saya lakukan. Yah, belajar dulu deh. Nanti baru jadi sastrawati handal, cieeeeeeeeeeee….
Sastra selalu jodoh dari kata “Lebhay” atau “Alay”, hahaha but that is literature! And that is natural from our mind and our soul, exactly! Tapi tingkat kelebaian orang itu beda-beda, ada yang normal tapi ada juga yang terkesan “nggilani”. Dalam sastra inilah kita belajar untuk menempatkan “kelebaian” kita dalam porsi yang sesungguhnya, dalam takaran yang pas. Yang namanya sastra adalah bicara tentang budaya, budaya yang ada dalam lingkungan social kita. Bagaimana fungsi karya sastra dalam masyarakat dan bagaimana karya satra meningkatkan moral masyarakat.
Literature is beautiful, sastra akan mampu membuat kita mengenali seperti apa diri kita sebenarnya. Dengan sastra kita mampu mengungkapkan apa yang kita rasakan dengan bahasa-bahasa yang indah, bermain kata dan seni. Kombinasi yang sangat sempurna. Let’s come in my class, join with literary class. J
Saya sangat bersyukur karena sejak saya kecil orang tua saya tidak pernah memanjakan saya dengan uang, mungkin sejak kecil saya memang nakal. Apa yang saya kehendaki harus dituruti, tapi saya masih cukup bisa berfikir dengan otak yang Tuhan anugerahkan pada saya. Saya masih berfikir berkali-kali jika ingin minta uang untuk beli sesuatu jika itu dirasa tidak begitu penting, jika kepepet dan saya benar-benar menginginkan barang tersebut saya bisa menabung untuk mendapatkannya. Meskipun saya harus menunggu dengan sabar hingga uang saya cukup untuk membelinya, tapi itu akan memberikan sensasi yang berbeda.
Contoh kecil, tas ransel saya. Tas itu saya beli saat saya kelas satu SMA dengan uang yang saya kumpulan setiap harinya yang saya potong sendiri dari uang saku saya, dan tas itu masih saya pakai sampai sekarang saya kuliah semester 5. Haha saya sudah memarahi saya untuk tidak memakainya lagi dan membelikannya dengan yang baru, tapi saya sudah terlanjur sayang sama tas itu. Kemanapun saya pergi pasti dia saya bawa, sampai semua teman-teman saya hafal dan menyebut saya kura-kura karena selalu membawa tas ransel butut itu.
Andai kata, ini saya hanya mengumpamakan saja. Andai saya orang tua saya punya bank pribadi dimana-mana, setiap bulannya mampu member saya uang dengan jumlah yang tidak bisa saya bayangkan pasti saya sangat bingung mau saya apakan uang itu. Yah, sejutalah minimal. Dengan uang saku sejuta untuk satu bulan mungkin tidak hanya Bali-Lombok-Pulau Komodo dan Indonesia saja yang bisa saya kunjungi dengan cara menabung dari sisa satu juta dalam sebulan, mungkin saya hanya akan memakainya 50% dalam sebulan tersebut. Itupun sudah lebih dari cukup dan masih sisa lebih dari 50%nya. London sama Jepang mungkin gag cuma sekedar harapan hampa, mungkin dengan beberapa tahun kedepan uang saya sudah cukup untuk membeli tiket kesana.
Tapi apa boleh buat sodara, seminggu “jatah” saya “hanya” 100 ribu rupiah dan saya rasa itu sudah cukup. Yah, mungkin sekali dua kali saya kurang karena ada biaya tambahan untuk tugas-tugas kuliah. Tapi itu tak pernah lebih dari 150 ribu. Meski kadang sempat iri dengan teman-teman yang duitnya banyak, saya tetap gag tega kalo harus meminta sama orang tua saya. Cari duit itu gag segampang kita menghambur-hamburkannya aja, untuk mendapatkan 500ribu mungkin butuh kerja keras tiap hari. Banting tulang dari pagi sampai malam, tapi untuk menghabiskan itu hanya cukup dengan hitungan menit saja, tragis memang.
Saya heran jika ada seorang yang masih aja merasa kurang dengan segala kelebihannya, membeli barang dengan harga mahal padahal kualitas pasar. Memang orang akan selalu bertanya berapa harganya? Pasang aja itu bandrol biar semua tahu kalo itu barang mahal. Haha saya bukannya gag pernah membelikan saya barang bermerek tapi beliau selalu menghimbau untuk membeli barang yang biasa saja, lebih baik murah tapi kita punya banyak dari pada mahal tapi cuma satu. Hidup sederhana dan sangat pas-pasan waktu kecil mengajari beliau untuk mengajarkan pada anak-anaknya hidup sederhana, hemat bukan berarti pelit. Hemat dan pelit itu beda. Hemat, meski dalam masa mengumpulkan uang demi bisa keluar pulau jawa saya paling gag bisa pelit apalagi sama teman saya. Dengan berbagi dan mensyukuri kita tidak akan pernah merasa kekurangan, Allah senantiasa akan selalu mencukupi segala kebutuhan kita.
Kalo dibilang boros mungkin saya memang sangat boros, tapi Alhamdulillah saya gag doyan shopping. Saya paling anti sama yang namanya shopping, karena itu aktivitas yang sangat membosankan jika dilakukan dengan durasi waktu yang sangat lama dan juga sangat waste our precious time. Kalo seumpama haha gag beliin baju, saya mungkin gag bakal punya baju, hahahaha. Kalopun sedang pengen baju baru saya bisa bilang sama haha ato haha yang kadang nawarin, tapi itu malah sering bikin saya was-was. Duit saya malah sering habis di makanan, lebih baik saya jajan makanan dari pada jajan gombal. Ck ck ck.
Dilema saya muncul kalo ada teman yang minta anter buat belanja, belanja apa dulu? Kalo makanan ayo, tapi kalo pakaian…hmmm, piker-pikir dulu deh! Lama gag? Kalo masih pake’ towaf di MAL saya malas sekali, saya capek. Tapi kadang juga pengen gitu, tapi rasa bosan saat disana gag bisa ilang. Berfikir untuk ikut beli sesuatu? Tergantung apa yang ada dan apa yang menarik buat saya. Saya lebih suka windows shopping dipakaian cowok dari pada cewek yang saya rasa sangat membosankan bahkan hanya sekedar diliat aja, ato saya tertarik liat-liat sepatu kets sama basket yang harganya gag bisa saya jangkau dan bikin saya males mikir untuk membelinya. Enak sama haha ikh beli-beli ginian, gag perlu keluar duit sendiri dan gag perlu dilemma gini. Kalo haha sudah bersabda maka jadilah apa yang saya dapat, tanpa bisa membantah lagi. Biar kata saya bandel gini tapi paling takut dan paling nurut sama haha saya, tapi bukan berarti saya gag pernah membantahnya. Kalo memang saya gag mau, ya gag!
Sebagai seorang perempuan haha lumayan doyan belanja, beliin anaknya atopun buat dirinya sendiri, mungkin beliau jauh lebih modis dari pada saya yang selau cuek dengan pakain yang saya pakai. Tapi ya masih dalam batas normal orang belanja, gag sampai borong-borong barang gitu. Saya gag habis piker sama mereka yang hampir tiap hari shopping, apa aja sih yang dibeli itu. Gag capek? Gag bosen? Saya aja kalo tahu capek sendiri, hahaha. Saya suka jalan-jalan ke MAL tapi gag buat belanja, kecuali makanan. Nonton ok, cuma jalan-jalan juga ok!
And then, himbauan aja buat kalian yang shopaholic. Inget guys, orang tua kalian susah payah cari duit buat kalian bukan buat kalian hambur-hamburin. Mereka menaruh harapan besar dari kalian, mungkin mereka berfikir jika dengan memberikan uang lebih kalian bisa membeli kebutuhan kuliah tambahan yang mendadak. Tapi sebagai anak saya juga paham gimana rasanya punyaduit banyak, ini tangan gatel sama mata ini gag bisa diem kalo liat duit cuma ngumpet aja di dompet. Maunya pengen beli ini beli itu, tapi paling gag kalian bisa mikir dululah sebelum membeli sesuatu itu, Pertimbangan harga juga sangat penting. Buat apa beli baju, sepatu, tas dan apa aja dengan harga ratusan ribu jika itu juga sama aja fungsinya dengan barang seperti itu yang jauh lebih murah. Toh, barang-barang itu gag bakal dibawa ke akhirat. Masih mau shopping disono?
Sempatkan untuk berfikir dan menempatkan posisi kita pada posisi orang tua kita yang susah payah cari duit, ngumpulin sen demi sen hingga menjadi jutan rupiah hanya untuk bisa membahagiakan kita sebagai anaknya. Mereka gag pernah tega bilang gag kalo kita minta duit buat beli ini itu, bagaimanapun keadaannya pasti mereka bakal ngasih. Seharusnya dari situlah kita bisa merasakan betapa sayang dan cintanya mereka kepada kita, sampai tidak peduli apa besok masihada sisa uang buat beli beras? Semoga kita semua segera sadar tentang semua ini, kawan… :)
Sebelumnya saya tidak ada niatan apa-apa dalam menuliskan ini semua, saya hanya ingin berbagi cerita pada semua karena mungkin saya bukan termasuk orang yang terbuka meskipun dengan keluarga atau sahabat, dan saya harap tidak ada yang jealous ataupun berfikir macam-macam tentang saya dan tidak menuduh saya yang macam-macam, karena dia hanya masa lalu dan sekarang saya sedang melangkah menuju masa dean. Semua gag akan pernah bisa jika kita tidak saling percaya.
Baiklah, ini kelanjutan dari Dilema saya ditahun kedua. Saya merasakan hal-hal baru disini, dimana saya tidak tahu apa itu pacaran, apa itu dating dan apa itu pacar. Pengalaman bersama pacar pertama saya tidak ada apa-apanya, seakan cuma sebatas status saja. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya ada yang bilang suka sama saya, (hahaha dalam keadaan waras gag dia?). Gag dapat dipungkiri karena saat itu memang saya masih culun (sekarang juga masih culun loe!), masih maba alias mahasiswa baru. Ketemuan hanya beberapa kali saja, itupun didepan kelas PKPBA dan yang paling berkesan saat double date yang gag terencana didepan rektorat. Hahaha konyol banget!
Dan saat pacar kedua saya ini saya masih merasakan bahwa semua hanya status saja, gag ada yang special saat bersama. Semua terasa begitu flat dan membosankan, karena saya masih getol-getolnya maen sama sahabat-sahabat saya. Saya juga sempat double date pergi ke BNS, tapi disana saya sama sekali gag nyaman. Satu-satunya moment yang berkesan adalah saat kita naek sepeda udara, hmm sweet banget! (ck ck ck). Dan juga nonton Harry Potter serta ke Coban Talun bertiga sama satu sahabat saya (orang ketiga adalah syetan!).
Tentang dia? Super sabar dia buat ngadepin cewek egois dan childish macam saya ini, tapi itu yang saya tahu. Yang saya gag tahu, ya saya gag tahu dia gimana sebenarnya. Dia gag pernah ngomong kalo dia kesal sama saya ataupun marah sama saya,bahkan dia rela berhenti merokok demi saya dan itu yang buat saya tega jika harus menyakiti hatinya. Saat saya marah dia mati-matian minta maaf dan sering ngomong aneh-aneh jika saya tak segera memaafkannya, padahal saya paling gag bisa marah tapi saya hanya kesal. Dan saya gag bisa bohong kalo saya terlalu sayang sama sahabat-sahabat saya, meskipun mereka sering bilang untuk mengajak dia dalam forum kita. Tapi saya menolak, saya gag ingin ruang gerak saya saat bersama teman-teman terbatas dan saya gag suka digodain sama mereka. Pokok intinya dia baik banget. Sampai Ibu saya shock ketika tahu saya putus dengan dia.
Jujur saja, sesuatu akan terasa sangat berharga ketika sesuatu itu telah hilang dari kita. Dan saya yakin kalian paham maksud saya. Yah, tapi saya terlalu membuang waktu hanya untuk berfikir tentang dia dan sahabatnya. Dia tahu kalo saya adalah fans berat sahabatnya dan dia tahu kalo saya yang waktu itu ngirim SMS yang ngaku sebagai anak Jogja. Tapi saya gag tahu apakah dia tahu tujuan saya waktu pinjem motornya itu dan membuat dia berkata pada sahabat saya “motor itu, motor itu adalah saksi bisu!”
Semua terjadi begitu saja tanpa air mata, dan saya masih bisa tertawa bersama sahabat saya. Tak dapat dipungkiri bahwa saya sayang mereka seperti keluarga saya. Sampai tiba pada satu masa, dimana saya sangat merasa dia itu berarti dan saya rapuh tanpanya. Saya ingin kembali! Tapi semua sudah terlambat, belakangan saya tahu bahwa dia kini kekasih temanku. Jika kalian Tanya tentang perasaanku, pastinya kalian tahu jawabannya. Perasaan saya sangat hancur ketika itu, sampai saya bolos kuliah seharian, sampai sahabat saya cuek gara-gara saya tak mau cerita apa-apa. Nangis!
Nangis karena cowok adalah hal paling bodoh yang pernah saya lakukan, dan selama ini selalu saya hindari. Malu saya sama Tuhan saya, kenapa saya begitu bodohnya. Hebatnya dia yang mampu mematika logika saya saat itu, seperti racun yang dengan ganas menyerang otak saya. Tapi semua telah mampu menyadarkan saya, sahabat-sahabat saya telah mampu menguatkan saya, mereka sumber kekuatan disaat saya berada ditempat perantauan, meraka mentari dalam gelap jiwa saya. Dan saya telah temukan penggantinya, dia bukan sebagai pelarian dari ini semua. Semua mengalir begitu saja.
Tuhan, jika saya terlalu hina untuk mencium surga-Mu maka jauhkan saya dari neraka-Mu...
Jika saya terlalu hina dimata umat-Mu maka muliakan saya dihadapan-Mu...
Jika memang saya tak layak didunia maka bawa saya ditempat terindah-Mu...
Jika tak ada lagi sahabat disamping saya maka kirimkan malaikat-Mu...
Tuhan, saat saya jauh dari keluarga hanya sahabat yang dekat saya...
Saat saya merasa sendiri hanya sahabat yang menemani saya...
Saat saya merasa sepi hanya sahabat yang meramaikan hati saya...
Saat sahabat pergi hanya dingin yang ada dihati saya...
Tuhan, apakah hidup selalu berjalan?
Apakah waktu selalu berputar?
Apakah bumi selalu berotasi?
Apakah matahari selalu berpijar?
Tuhan, hati ini rindu hangatnya sentuhan sahabat...
Hati ini pilu melihat sahabat seperti itu...
Hati ini hancur merasakan persahabatan terlebur...
Hati ini meronta melihat sahabat sengsara...
Tuhan, tiada lelah saya mengucap maaf...
Tiada henti saya meminta maaf...
Hingga terasa hina diri ini dihadapan mereka...
Hingga tak ada lagi harga diri demi mereka...
Tuhan, apa harus saya menukar semuanya dengan kembalinya mereka?
Apa harus saya meronta dihadapan mereka?
Merengek serta meronta?
Menangis sambil meminta?
Tiada dusta dalam indahnya persahabatan...
Tiada penyesalan dalam pengorbanan...
Tiada tangis dalam kebahagiaan...
Tiada senyum dalam kesendirian...
Tuhan, getarkan hatinya...
Sentuh hatinya dengan kasih-Mu...
Genggam tangannya dalam lindungan-Mu...
Bisikkan padanya bahwa saya rindu mereka...
well, setelah romansa saya saat maba sekarang we go on to ‘dilema saya ditahun kedua’. Selama menjalani hidup ini belum pernah mengalami masalah serumit ini, mungkin saya tahu alasan kenapa orang tua saya melarang saya pacaran selama saya masih sekolah. Dan mungkin juga, jika saya sudah pacaran saat masih sekolah saya gag akan bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Ternyata cinta itu sangatlah rumit, kawan. Masalah dalam percintaan sangat kompleks dan benar-benar bikin saya gila dan kehilangan logika saya seketika. Ini otak rasanya sudah mendapat suntikan obat bius atau sejenis racun yang menghambat cara kerjanya secara normal, menerawang gag jelas dan melakukan hal-hal yang sangat gag penting jiddan!
Yah, sesingkat itulah yang saya tahu tentang cinta cinta dan cinta lagi. Lagi-lagi cinta. Apakah kalian pernah merasa bosan dengan cinta? Jujur, saya sangat bosan jika harus mengulang lagi kata “cinta” dan saya masih saja menyebutnya lagi. Sekali lagi “cinta”, hahaha. Tapi dibalik sebuah kebosanan itu tersimpan jutaan bahkan milyaran rasa penasaran tentang hal tersebut (bosen nyebut saya, ck ck ck), rasa ingin tahu yang mendalam yang sudah saya simpan sejak masih ingusan dan hobi ngupil (sekarang masih gitu?). Yah, tapi semua hanya sebatas rasa penasaran saja. Saya tidak berani untuk menjajaki hal itu semakin dalam, dan semakin dalam (macam hipnotis aje). Nyak sama Babe gag pernah ngijinin saya untuk pacaran dan sangat menentang hal itu, tahu ancaman orang tua sama anak-anak mereka? Kalo sampai ketahuan pacaran ntar tak nikahin sekalian, ck ck ck. Benar-benar ancaman maha ampuh pokoknya. Saking ampuhnya sampai membuat saya menyandang gelar jomblo dari mulai lahir sampai expired masuk kuliah gini. Kasian kasian kasian, hina banget!
Setelah menjalani pacaran pertama saya disemester 1 yang hanya berusia 20 hari saya kembali menyandang gelar jomblo yang entah kenapa sangat krasan nempel sama saya, dan saya bangga juga. (mencoba menghibur diri sendir aja, ck ck ck). Dan, saya selalu meneriakkan. “Kepada para jomblowers, siapkan diri kalian untuk melaksanakan upacara kebesaran kita. Segera kita kibarkan bendera jumblo kita, dan ingat bahwa perjuangan belum selesai. Pejuang cinta, semangat!” Yups, meneriakkan pada diri saya sendiri tentunya. Masak iya saya teriak-teriak dilapangan kampus sambil bawa bamboo runcing, beneran jadi pejuang saya. Pejuang cinta, ahihihi.
Satu tahun menjomblo lagi, dan saat liburan semester 2 saya mengambil kursus di Pare selama satu bulan penuh. Hari-hari yang berat yang saya rasakan disana, merasa sepi dalam ramainya Pare. Merasa merana dalam bahagianya atmosfir ketika itu, menangis seperti bayi yang dibuang orang tuanya ditempat sampah. Dan sejak saya di Pare ada senior saya di kampus yang rajin SMS saya, ya awalnya saya gag curiga karena he’s not the only one! Tapi ternyata itu semakin berlanjut dan berlanjut hingga saya kembali ke Malang dan puncaknya ketika masa-masa orientasi mahasiswa baru. Semakin rajin SMS dan telpon tiap malam, seneng? Bangeeeet! (ikh, genit amat lo!). Biarin.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam bergani jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu sampai bulan berganti bulan. Kita semakin dekat dan tentu saya desir-desir gossip semakin merambah cepat bagai virus flu burung yang kayak jamur, kita digosipin pacaran! Wow,.. (jingkrak-jingkrak gag jelas). Dia nganggepnya pacaran, bahkan Coban Talun pernah menjadi tempat indah saat itu. Tapi bagi saya dia gag pernah ngomong secara langsung, gag pernah ngerasa ditembak kok. Dan akhirnyaaaaaaa, pada tanggal 1 januari 2011 lalu dia ngomong deh. Dan saya bingung harus ngomong apa, sahabat-sahabat saya mendukung itu tapi saya bingung juga jawabnya. Akhirnya dibantuin deh merangkai kata sama salah seorang dari mereka, sebut saja bunga. Kalo saya baca saat itu, bahasanya benar-benar gag banget. Lebhay. Tapi saya gag ada pilihan lain, ok sent!
Hore, saya punya pacar (lagi). Nyak saya sangat senang karena ternyata anaknya normal, akhirnya juga dengan agak gag percaya ada yang mau jadi pacarnya (itu cowok beneran baik-baik aja? gag sakit?). Ya, dia normal, dia baik, dan yang pasti (dia bilang) dia sayang saya. Tapi saya terlalu sibuk dnegan sahabat-sahabat saya waktu itu, gag pernah punya pacar membuat saya terlalu sayang dan terlalu bisa menghargai sahabat-sahabat saya. Saya selalu berfikir bahwa mereka segala-galanya, saya gag bisa hidup jika tanpa mereka. Saya bisa bertahan selama ini tanpa pacar tapi saya tidak yakin bisa bertahan sehari saja tanpa sahabat, saya bisa mati. Dan itulah awal sebuah bencana terjadi, dia merasa tersingkrihkan dan merasa tidak dianggap serta tidak dihargai sebagai seorang pacar. Dan pada saat itu saya sadar kalo saya tidak sepenuhnya sayang sama dia, bahkan saya sangat cuek dan tidak peduli sama sekali. Dia sendiri pernah bilang sama saya, dan saya merasa dibodohi (elo kali yang bodohi dia).
And then, tanggal 9 februari 2011 adalah hari pertama saya kembali ke Malang setelah liburan panjang yang membosankan yang membuat saya menjadi fesbuker sejati. Saat itu saya sudah merancang rencana liburan bersama sahabat saya, disitu saya sadar kalo saya jahat banget dengan todak memperdulikan dia dan malah pakek motornya buat jalan-jalan ke Pasuruan. He’s so kind man, and I am a worst girl! Hampir tengah malem hape saya bunyi, ada telfon. Bilang deh dia sama saya apa adanya, menanyakan tentang hubungan kita yang emang gag jelas dari sononya. Putus!
Terhitung sejak tangal 1 januari-9 februari saya pacaran, lumayan lama dari pada yang pertama, not tears. Perjuangan dimulai kembali. Setelah itu kita tetep biasa-biasa aja, cuma status yang membedakannya. Saya tahu kalo dia sangat sayang sama saya, tapi kesalahan saya adalah saya tidak menyadarinya dan diapun tahu jika saya sangat terobsesi dengan sahabatnya saat itu dan juga sahabat saya, benar-benar apa saya ini. (to be continue)
Aku sangat mengharapkan kalian membaca ini, aku sangat mengharapkan kalian mampu mengerti hatiku dari sini, dan aku sangat mengharapkan kalian tahu semua dari sini….
Semester awal yang indah
Sabahatku, kalian menganggap aku apa?
Apa yang kalian pikirkan tentang aku?
Apa yang kalian rasakan saat bersamaku?
Apapun itu jawaban kalian, aku yakin bahwa ada hal yang kalian tidak tahu tentang aku…
Apa kalian tahu kalo aku sangat sayang kalian?
Apa kalian tahu kalo aku selalu respect sama kalian?
Apa kalian tahu kalo aku selalu menghargai setiap kata-kata kalian meskipun kadang kalian tidak menghargai aku?
Apa kalian tahu kalo sebenarnya hatiku sangat sensitive dan sangat mudah tersinggung terhadap setiap perkataan serta perbuatan kalian yang kadang terasa pedih?
Dan, apa kalian tahu kalo aku rela melakukan sesuatu untuk kalian?
Sahabatku, tahukah kalian bagaimana rasanya tidak dianggap?
Tahukah kalian bagaimana rasanya tidak dimanusiakan meski jelas berada disamping kalian?
Here we are
Tahukah kalian rasanya diacuhkan?
Aku rasa kalian bisa menjawab sendiri semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menurut kalian sangat tidak penting dan tidak berguna sama sekali, tapi bagiku itu sangat berarti. Dunia memang masih berputar meski aku ditinggal pacar, tapi jantung bisa berhenti berdetak jika aku ditinggal kalian dan jika kalian sudah tidak lagi menganggap aku.
Jutaan penyesalan dan maaf tersampaikan dari lubuk hati yang paling dalam atas khilaf yang selama ini aku beri, atas lisan yang tak mampu terjaga dan atas tindakan yang tak mampu terkontrol. Maaf jika selama ini selalu menyusahkan kalian, maaf jika selama ini selalu menjadi pengganggu dalam hidup kalian dan maaf jika ada yang tersinggung karena ini semua.
Setelah membaca ini, terserah kalian mau bilang aku apa. Terserah mau bilang aku kayak apapun itu terserah kalian, dan kalian berhak atas itu. Kadang aku merasa bukan siapa-siapa buat kalian, tapi aku hanya ingin kalian tahu satu hal saja. Aku sayang kalian seperti keluargaku sendiri!