Followers

Wednesday, 30 November 2011

For all of my friends

Aku sangat mengharapkan kalian membaca ini, aku sangat mengharapkan kalian mampu mengerti hatiku dari sini, dan aku sangat mengharapkan kalian tahu semua dari sini….
Semester awal yang indah
Sabahatku, kalian menganggap aku apa?
Apa yang kalian pikirkan tentang aku?
Apa yang kalian rasakan saat bersamaku?
Apapun itu jawaban kalian, aku yakin bahwa ada hal yang kalian tidak tahu tentang aku…
Apa kalian tahu kalo aku sangat sayang kalian?
Apa kalian tahu kalo aku selalu respect sama kalian?
Apa kalian tahu kalo aku selalu menghargai setiap kata-kata kalian meskipun kadang kalian tidak menghargai aku?
Apa kalian tahu kalo sebenarnya hatiku sangat sensitive dan sangat mudah tersinggung terhadap setiap perkataan serta perbuatan kalian yang kadang terasa pedih?
Dan, apa kalian tahu kalo aku rela melakukan sesuatu untuk kalian?
Sahabatku, tahukah kalian bagaimana rasanya tidak dianggap?
Tahukah kalian bagaimana rasanya tidak dimanusiakan meski jelas berada disamping kalian?
Here we are
Tahukah kalian rasanya diacuhkan?
Aku rasa kalian bisa menjawab sendiri semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menurut kalian sangat tidak penting dan tidak berguna sama sekali, tapi bagiku itu sangat berarti. Dunia memang masih berputar meski aku ditinggal pacar, tapi jantung bisa berhenti berdetak jika aku ditinggal kalian dan jika kalian sudah tidak lagi menganggap aku.
Jutaan penyesalan dan maaf tersampaikan dari lubuk hati yang paling dalam atas khilaf yang selama ini aku beri, atas lisan yang tak mampu terjaga dan atas tindakan yang tak mampu terkontrol. Maaf jika selama ini selalu menyusahkan kalian, maaf jika selama ini selalu menjadi pengganggu dalam hidup kalian dan maaf jika ada yang tersinggung karena ini semua.

Setelah membaca ini, terserah kalian mau bilang aku apa. Terserah mau bilang aku kayak apapun itu terserah kalian, dan kalian berhak atas itu. Kadang aku merasa bukan siapa-siapa buat kalian, tapi aku hanya ingin kalian tahu satu hal saja. Aku sayang kalian seperti keluargaku sendiri!

Tuesday, 29 November 2011

Dilema para mahasiswa

Sebagai seorang mahasiswa saya sangat paham dengan apa yang dimaksud dengan dilema para mahasiswa, dilema saat deadline tugas terasa mencekik urat syaraf. Menekan otak sampai mau pecah rasanya, merontokkan tulang belulang hinga lumpuh terasa. Tapi sebagai seorang mahasiswa seharusnya kita sadar akan semua konsekuensi itu, menjalani semua tugas dengan ikhlas tanpa mengeluh karena banyaknya tugas yang dibebankan oleh dosen-dosen tercinta kita. Tak terpungkiri tugas juga mempengaruhi pola makan serta pola pikir kita, tanpa saya sadari pola makan saya selama satu minggu sangat tidak teratur. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena uang saku saya sisa lumayan banyak dalam minggu itu, berarti itu menandakan bahwa saya hanya mengkonsumsi junk food dan junk food. Sehat? Tentu saja tidak! Dan tentunya tugas-tugas tersebut membuat saya over dosis obat penurun panas, setiap malam saya harus mengkonsumsi itu hanya sekedar untuk meringankan beban yang memdidihkan otak saya.
Kadang saya ingin para dosen saya itu dapat memahami apa yang kita rasakan, da kadang saya heran. Sebelum jadi dosen juga pernah kan merasakan adi mahasiswa? Heran deh, ini sebagai ajang balas dendam apa ya...? ck ck ck. Dosen-dosen yang terhormat, tolong dong jangan siksa kami para mahasiswa dengan tugas yang maha kejam. Masalah deadline juga harus dipikirkan, tugas banyak tapi deadline cuma sebentar...

Cape deeeeee... >.<

Monday, 28 November 2011

Nyayian Kala Senja Menyapa

Tuhan, terima kasih atas semuanya...
Atas hidup ini,
nafas ini yang tiada lelah berhembus,
jantung ini yang enggan berhenti berdetak meski sedetik,
nadi ini yang terus berpacu dengan waktu...

Tuhan, hanya pada-Mu akan aku serahkan...
Seluruh nafasku ini,
seluruh jantungku ini,
seluruh nadi dalam setiap jengkal urat syarafku...

Tuhan, anugrah serta karunia yang tiada pernah lelah dari-Mu...
Rizki yang tiada habis setiap waktu...
Syukur yang tiada pernah lelah terucap dariku...
Hingga aku siap menunggu waktu itu datang menjemputku...

Tuhan, pintaku pada-Mu...
Jaga mereka yang aku sayang...
Keluargaku, sahabatku, calon suamiku, dan seluruh umat-Mu...
Ambil aku dalam khusnul khotimah-Mu...

Amien

Wednesday, 23 November 2011

Romansa saya kala maba

Siang itu mentari terasa begitu teriknya, mungkin bisa buat bakar sate atau bakar orang sekalian. Saya yang sedang duduk sendiri di depan Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang sangat merasa kalau siang itu memang panas dan berharap hujan segera turun saat itu juga, sekedar untuk membasahi bumi maliki yang tengah mendidih terbakar sinar mentari. Terlihat lalu lalang mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas yang entah selesai kuliah atau mau berangkat kuliah, terlihat peluh membasahi wajah mereka. Raut mukanya terlihat begitu capek, letih dengan berbagai aktifitas mereka seharian. Tapi dibalik itu semua tersirat harapan dari pancaran mata mereka, melangkah pasti menuju masa depan. Bergulat dengan buku serta peluh seharian (kaya' pegulat aja) dengan penuh semangat yang membara.
Mahasiswa, kata yang membuat semua orang langsung memusatkan pikiran mereka pada perguruan tinggi. Maha yang memiliki arti paling besar dan siswa berarti murid. Terus? Ya udh gitu aja. Yah, saya mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris disebuah kampus negeri di Malang. Kuliah sejak tahun 2009 hingga sekarang tahun 2011, dan saya tengah menempuh semester 5 dikampus tersebut. Sejak SD saya berfikir bahwa kuliah itu sangat menakutkan tapi pasti keren, setelah saya benar-benar kuliah ternyata benar. Kuliah itu memang menakutkan, apalagi kalau tahu skripsi. Sumpah, pengen langsung lulus tanpa skripsi aja (kampus mbahmu apa?). Tapi kalau menyangkut masalah keren? I don't think so. Saya rasa biasa-biasa aja deh. Toh, saya kalau kekampus juga biasa-biasa aja. Beda banget dengan apa yang dulu saya lihat ditipi, kayaknya keren-keren anak-anaknya. Bawa mobil kalau kekampus, nah saya bawa sepeda ontel!
Menyangkut masalah keren, itu tergantung dari setiap individu. Lo mau nyaman apa jomblo? Contohnya saya, saya selalu milih nyaman. Saya gag suka kalau diatur-atur masalah pakaian, kalau saya suka why not? Kalau ada yang gag suka dengan dandanan saya, fine! Lo punya mata, jadi mending merem aja kalo saya lewat. Beres masalah. Dan hasilnya? Saya cukup lama menyandang status jomblo! Tapi saya bisa seneng karena awal saya masuk beluma ada yang begitu mengenal saya dengan segala kekonyolan saya, dan? Gotcha! Woy, saya ditembak cowok untuk yang pertama kalinya pada semester 1. Seneng, bimbang, takut, bingung, mual, pengen muntah, pening semua ngumpul jadi satu dan pada rapat dalam diri saya saat itu. Oh Tuhan, apa yang harus saya lakukan jika saya benar-benar punya pacar? Dating? Oh, no...!
Well, gaya pacaran saya sangat terkesan membosankan bagi mereka yang kegirangan saat pacaran. Mau ketemuan saya alasan mau ngerjain tugaslah, ngantuklah, capeklah. Paling banter duduk berdua di depan rektorat waktu itu. Hmm, so romantic buat saya yang gag pernah pacaran. Bercanda, ngobrol (tanpa pegang-pegangan tangan pastinya) berdua dibawah pohon gede ditaman seribu janji bumi maliki. Hash, dasar cinta monyetnya mahasiswa yang telat pacaran. Flat!
Semua berjalan sangat tidak lancar dan hanya berumur 20 hari saja, yah semua orang mungkin bilang saya gila. Dan saya memang gila jika meneruskan semuanya, karena perasaan saya tidak enak saat itu. Dan kalian tahu? Turuti apa kata hati kalian, jangan turutin nafsu kalian karena itu bisa berakibat fatal. Camkan itu baik-baik, understand? (ya ya, kami paham kok). Dan yang perlu kalian tahu, saya termasuk orang yang jarang mikir kalau mau bertindak. Jare wong jowo grusa grusu alias kususu (enak timbang kesikut). Tapi Allah maha tahu apa yang terbaik buat saya, dan saya rasa jomblo adalah piihan paling baik dan benar saat itu. Lagian saya mau kuliah bukan cari jodoh (plok plok plok plok) dan kalau sudah jodoh juga gag bakalan kemana-mana (plok plok plok plok, santai santai saudara-saudara).
Mungkin ini adalah masa-masa sulit bagi saya, melupakan masa lalu yang sebenarnya gag begitu pahit-pahit amat tapi sangat berkesan daleeeeeeeeeeeeeem banget (tolong, saya tenggelam...!). Semua nyalahin saya atas tindakan benar saya, kenapa saya buru-buru mutusin kalau akhirnya menyiksa saya sendiri. Semua tindakan memang harus dipikirkan baik-baik. Itu pelajaran baru yang saya dapatkan dari masalah itu. Sampai saya merasa dia menjadi pahlawan kesiangan saat saya kecopetan di stasiun kereta api, sempet berfikir untuk kembali tapi saya ragu akan rasa itu. Saya rasa itu hanya nafsu yang datang dari rasa salut serta kagum atas tindakannya. Dia memang tidak menyelamatkan hape saya yang sudah digondol copet, tapi tiba-tiba dia datang gara-gara telepon nyasar ibu saya. (-_-”). To be continue....

Aku masih dsini, menunggu purnama itu tersenyum kembali


Kawan, kabarkan padaku jika gerhana telah berlalu...
Aku ingin melihat purnama itu bersinar kembali...
Meski sinarnya tak lagi untukku...
Karena aku telah temukan mentari...

Sinar mentari selalu biaskan keindahan...
Sinarnya pancarkan pelangi dalam redup hatiku...
Hatiku yang sempat redup oleh gerhana...
Gerhana yang merenggut purnama dalam sepi malamku...

Dan kini, aku telah bersinar kembali...
Meski awan hitam selimuti langit jiwa...
Meski purnama tak lagi ada...
Sinarku mampu terpancar dengan terangnya...

Karena mentari selalu membagi sinarnya pada bintang...!

The power of dream

Mengutip dari novel "Sang Pemimpi" karya Andrea Hirata yang sangat mampu menginspirasi saya untuk tetap keukeuh dalam mempertahankan mimpi-mimpi saya yang mungkin terkesan bagai pungguk merindukan bulan, tapi karena novel tersebut saya semakin yakin dengan motto hidup saya. "Nothing is Impossible". Bahwa segala sesuatu itu gag ada yang gag mungkin di dunia ini, semua akan terjadi atas kehendak Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak apapun akan terjadi, dengan kun fayakun apapun akan terjadi dengan sangat ajaibnya.
Percayalah bahwa Tuhan selalu ada di hati kita, Tuhan selalu ada di setiap langkah kita, menjaga kita dengan segala kelemahan dan ketidak berdayaan kita. Selalu ada di setiap firasat kita, I love God!
Dan aku selalu percaya bahwa Tuhan selalu memeluk mimpi-mimpiku. Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita, dan dengan mimpi kita akan tetap merasa hidup meski pada kenyataannya kita bukanlah orang yang mampu. Meski pada dasarmya kita bukan orang kaya dan terkesan kita hanyalah seorang pemimpi, tapi dengan mimpi kita bisa merasakan arti penting tentang untuk apa sebenarnya kita hidup. Kemana sebenarnya tujuan kita di dunia ini, hanya ada satu jawaban untuk semua jawaban tentang hidup ini. Mimpi!
Kita hidup untuk mencapai mimpi kita
Kita hidup untuk menggapai mimpi kita
Kita hidup untuk mimpi yang harus menjadi sebuah kenyataan dalam hidup
Jangan biarkan mimpi hanya sebagai mimpi, mimpi harus di wujudkan. Gapai mimpimu kawan, tunjukkan pada dunia bahwa kita bukan hanya seorang pemimpi belaka.
Believe that our dream will be come true!!!
Kekuatan mimpi yang luar biasa, yang mampu membuat aku tetap kuat hidup hingga detik ini. Karena aku yakin bahwa kelak mimpi itu akan aku dapat, entah itu kapan. Tapi aku selalu yakin pada hatiku, karena Tuhan selalu ada dalam firasat kita.