Sebelumnya saya tidak ada niatan apa-apa dalam menuliskan ini semua, saya hanya ingin berbagi cerita pada semua karena mungkin saya bukan termasuk orang yang terbuka meskipun dengan keluarga atau sahabat, dan saya harap tidak ada yang jealous ataupun berfikir macam-macam tentang saya dan tidak menuduh saya yang macam-macam, karena dia hanya masa lalu dan sekarang saya sedang melangkah menuju masa dean. Semua gag akan pernah bisa jika kita tidak saling percaya.
Baiklah, ini kelanjutan dari Dilema saya ditahun kedua. Saya merasakan hal-hal baru disini, dimana saya tidak tahu apa itu pacaran, apa itu dating dan apa itu pacar. Pengalaman bersama pacar pertama saya tidak ada apa-apanya, seakan cuma sebatas status saja. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya ada yang bilang suka sama saya, (hahaha dalam keadaan waras gag dia?). Gag dapat dipungkiri karena saat itu memang saya masih culun (sekarang juga masih culun loe!), masih maba alias mahasiswa baru. Ketemuan hanya beberapa kali saja, itupun didepan kelas PKPBA dan yang paling berkesan saat double date yang gag terencana didepan rektorat. Hahaha konyol banget!
Dan saat pacar kedua saya ini saya masih merasakan bahwa semua hanya status saja, gag ada yang special saat bersama. Semua terasa begitu flat dan membosankan, karena saya masih getol-getolnya maen sama sahabat-sahabat saya. Saya juga sempat double date pergi ke BNS, tapi disana saya sama sekali gag nyaman. Satu-satunya moment yang berkesan adalah saat kita naek sepeda udara, hmm sweet banget! (ck ck ck). Dan juga nonton Harry Potter serta ke Coban Talun bertiga sama satu sahabat saya (orang ketiga adalah syetan!).
Tentang dia? Super sabar dia buat ngadepin cewek egois dan childish macam saya ini, tapi itu yang saya tahu. Yang saya gag tahu, ya saya gag tahu dia gimana sebenarnya. Dia gag pernah ngomong kalo dia kesal sama saya ataupun marah sama saya,bahkan dia rela berhenti merokok demi saya dan itu yang buat saya tega jika harus menyakiti hatinya. Saat saya marah dia mati-matian minta maaf dan sering ngomong aneh-aneh jika saya tak segera memaafkannya, padahal saya paling gag bisa marah tapi saya hanya kesal. Dan saya gag bisa bohong kalo saya terlalu sayang sama sahabat-sahabat saya, meskipun mereka sering bilang untuk mengajak dia dalam forum kita. Tapi saya menolak, saya gag ingin ruang gerak saya saat bersama teman-teman terbatas dan saya gag suka digodain sama mereka. Pokok intinya dia baik banget. Sampai Ibu saya shock ketika tahu saya putus dengan dia.
Jujur saja, sesuatu akan terasa sangat berharga ketika sesuatu itu telah hilang dari kita. Dan saya yakin kalian paham maksud saya. Yah, tapi saya terlalu membuang waktu hanya untuk berfikir tentang dia dan sahabatnya. Dia tahu kalo saya adalah fans berat sahabatnya dan dia tahu kalo saya yang waktu itu ngirim SMS yang ngaku sebagai anak Jogja. Tapi saya gag tahu apakah dia tahu tujuan saya waktu pinjem motornya itu dan membuat dia berkata pada sahabat saya “motor itu, motor itu adalah saksi bisu!”
Semua terjadi begitu saja tanpa air mata, dan saya masih bisa tertawa bersama sahabat saya. Tak dapat dipungkiri bahwa saya sayang mereka seperti keluarga saya. Sampai tiba pada satu masa, dimana saya sangat merasa dia itu berarti dan saya rapuh tanpanya. Saya ingin kembali! Tapi semua sudah terlambat, belakangan saya tahu bahwa dia kini kekasih temanku. Jika kalian Tanya tentang perasaanku, pastinya kalian tahu jawabannya. Perasaan saya sangat hancur ketika itu, sampai saya bolos kuliah seharian, sampai sahabat saya cuek gara-gara saya tak mau cerita apa-apa. Nangis!
Nangis karena cowok adalah hal paling bodoh yang pernah saya lakukan, dan selama ini selalu saya hindari. Malu saya sama Tuhan saya, kenapa saya begitu bodohnya. Hebatnya dia yang mampu mematika logika saya saat itu, seperti racun yang dengan ganas menyerang otak saya. Tapi semua telah mampu menyadarkan saya, sahabat-sahabat saya telah mampu menguatkan saya, mereka sumber kekuatan disaat saya berada ditempat perantauan, meraka mentari dalam gelap jiwa saya. Dan saya telah temukan penggantinya, dia bukan sebagai pelarian dari ini semua. Semua mengalir begitu saja.

No comments:
Post a Comment