Followers

Wednesday, 23 November 2011

Romansa saya kala maba

Siang itu mentari terasa begitu teriknya, mungkin bisa buat bakar sate atau bakar orang sekalian. Saya yang sedang duduk sendiri di depan Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang sangat merasa kalau siang itu memang panas dan berharap hujan segera turun saat itu juga, sekedar untuk membasahi bumi maliki yang tengah mendidih terbakar sinar mentari. Terlihat lalu lalang mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas yang entah selesai kuliah atau mau berangkat kuliah, terlihat peluh membasahi wajah mereka. Raut mukanya terlihat begitu capek, letih dengan berbagai aktifitas mereka seharian. Tapi dibalik itu semua tersirat harapan dari pancaran mata mereka, melangkah pasti menuju masa depan. Bergulat dengan buku serta peluh seharian (kaya' pegulat aja) dengan penuh semangat yang membara.
Mahasiswa, kata yang membuat semua orang langsung memusatkan pikiran mereka pada perguruan tinggi. Maha yang memiliki arti paling besar dan siswa berarti murid. Terus? Ya udh gitu aja. Yah, saya mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris disebuah kampus negeri di Malang. Kuliah sejak tahun 2009 hingga sekarang tahun 2011, dan saya tengah menempuh semester 5 dikampus tersebut. Sejak SD saya berfikir bahwa kuliah itu sangat menakutkan tapi pasti keren, setelah saya benar-benar kuliah ternyata benar. Kuliah itu memang menakutkan, apalagi kalau tahu skripsi. Sumpah, pengen langsung lulus tanpa skripsi aja (kampus mbahmu apa?). Tapi kalau menyangkut masalah keren? I don't think so. Saya rasa biasa-biasa aja deh. Toh, saya kalau kekampus juga biasa-biasa aja. Beda banget dengan apa yang dulu saya lihat ditipi, kayaknya keren-keren anak-anaknya. Bawa mobil kalau kekampus, nah saya bawa sepeda ontel!
Menyangkut masalah keren, itu tergantung dari setiap individu. Lo mau nyaman apa jomblo? Contohnya saya, saya selalu milih nyaman. Saya gag suka kalau diatur-atur masalah pakaian, kalau saya suka why not? Kalau ada yang gag suka dengan dandanan saya, fine! Lo punya mata, jadi mending merem aja kalo saya lewat. Beres masalah. Dan hasilnya? Saya cukup lama menyandang status jomblo! Tapi saya bisa seneng karena awal saya masuk beluma ada yang begitu mengenal saya dengan segala kekonyolan saya, dan? Gotcha! Woy, saya ditembak cowok untuk yang pertama kalinya pada semester 1. Seneng, bimbang, takut, bingung, mual, pengen muntah, pening semua ngumpul jadi satu dan pada rapat dalam diri saya saat itu. Oh Tuhan, apa yang harus saya lakukan jika saya benar-benar punya pacar? Dating? Oh, no...!
Well, gaya pacaran saya sangat terkesan membosankan bagi mereka yang kegirangan saat pacaran. Mau ketemuan saya alasan mau ngerjain tugaslah, ngantuklah, capeklah. Paling banter duduk berdua di depan rektorat waktu itu. Hmm, so romantic buat saya yang gag pernah pacaran. Bercanda, ngobrol (tanpa pegang-pegangan tangan pastinya) berdua dibawah pohon gede ditaman seribu janji bumi maliki. Hash, dasar cinta monyetnya mahasiswa yang telat pacaran. Flat!
Semua berjalan sangat tidak lancar dan hanya berumur 20 hari saja, yah semua orang mungkin bilang saya gila. Dan saya memang gila jika meneruskan semuanya, karena perasaan saya tidak enak saat itu. Dan kalian tahu? Turuti apa kata hati kalian, jangan turutin nafsu kalian karena itu bisa berakibat fatal. Camkan itu baik-baik, understand? (ya ya, kami paham kok). Dan yang perlu kalian tahu, saya termasuk orang yang jarang mikir kalau mau bertindak. Jare wong jowo grusa grusu alias kususu (enak timbang kesikut). Tapi Allah maha tahu apa yang terbaik buat saya, dan saya rasa jomblo adalah piihan paling baik dan benar saat itu. Lagian saya mau kuliah bukan cari jodoh (plok plok plok plok) dan kalau sudah jodoh juga gag bakalan kemana-mana (plok plok plok plok, santai santai saudara-saudara).
Mungkin ini adalah masa-masa sulit bagi saya, melupakan masa lalu yang sebenarnya gag begitu pahit-pahit amat tapi sangat berkesan daleeeeeeeeeeeeeem banget (tolong, saya tenggelam...!). Semua nyalahin saya atas tindakan benar saya, kenapa saya buru-buru mutusin kalau akhirnya menyiksa saya sendiri. Semua tindakan memang harus dipikirkan baik-baik. Itu pelajaran baru yang saya dapatkan dari masalah itu. Sampai saya merasa dia menjadi pahlawan kesiangan saat saya kecopetan di stasiun kereta api, sempet berfikir untuk kembali tapi saya ragu akan rasa itu. Saya rasa itu hanya nafsu yang datang dari rasa salut serta kagum atas tindakannya. Dia memang tidak menyelamatkan hape saya yang sudah digondol copet, tapi tiba-tiba dia datang gara-gara telepon nyasar ibu saya. (-_-”). To be continue....

No comments:

Post a Comment