well, setelah romansa saya saat maba sekarang we go on to ‘dilema saya ditahun kedua’. Selama menjalani hidup ini belum pernah mengalami masalah serumit ini, mungkin saya tahu alasan kenapa orang tua saya melarang saya pacaran selama saya masih sekolah. Dan mungkin juga, jika saya sudah pacaran saat masih sekolah saya gag akan bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Ternyata cinta itu sangatlah rumit, kawan. Masalah dalam percintaan sangat kompleks dan benar-benar bikin saya gila dan kehilangan logika saya seketika. Ini otak rasanya sudah mendapat suntikan obat bius atau sejenis racun yang menghambat cara kerjanya secara normal, menerawang gag jelas dan melakukan hal-hal yang sangat gag penting jiddan!
Yah, sesingkat itulah yang saya tahu tentang cinta cinta dan cinta lagi. Lagi-lagi cinta. Apakah kalian pernah merasa bosan dengan cinta? Jujur, saya sangat bosan jika harus mengulang lagi kata “cinta” dan saya masih saja menyebutnya lagi. Sekali lagi “cinta”, hahaha. Tapi dibalik sebuah kebosanan itu tersimpan jutaan bahkan milyaran rasa penasaran tentang hal tersebut (bosen nyebut saya, ck ck ck), rasa ingin tahu yang mendalam yang sudah saya simpan sejak masih ingusan dan hobi ngupil (sekarang masih gitu?). Yah, tapi semua hanya sebatas rasa penasaran saja. Saya tidak berani untuk menjajaki hal itu semakin dalam, dan semakin dalam (macam hipnotis aje). Nyak sama Babe gag pernah ngijinin saya untuk pacaran dan sangat menentang hal itu, tahu ancaman orang tua sama anak-anak mereka? Kalo sampai ketahuan pacaran ntar tak nikahin sekalian, ck ck ck. Benar-benar ancaman maha ampuh pokoknya. Saking ampuhnya sampai membuat saya menyandang gelar jomblo dari mulai lahir sampai expired masuk kuliah gini. Kasian kasian kasian, hina banget!
Setelah menjalani pacaran pertama saya disemester 1 yang hanya berusia 20 hari saya kembali menyandang gelar jomblo yang entah kenapa sangat krasan nempel sama saya, dan saya bangga juga. (mencoba menghibur diri sendir aja, ck ck ck). Dan, saya selalu meneriakkan. “Kepada para jomblowers, siapkan diri kalian untuk melaksanakan upacara kebesaran kita. Segera kita kibarkan bendera jumblo kita, dan ingat bahwa perjuangan belum selesai. Pejuang cinta, semangat!” Yups, meneriakkan pada diri saya sendiri tentunya. Masak iya saya teriak-teriak dilapangan kampus sambil bawa bamboo runcing, beneran jadi pejuang saya. Pejuang cinta, ahihihi.
Satu tahun menjomblo lagi, dan saat liburan semester 2 saya mengambil kursus di Pare selama satu bulan penuh. Hari-hari yang berat yang saya rasakan disana, merasa sepi dalam ramainya Pare. Merasa merana dalam bahagianya atmosfir ketika itu, menangis seperti bayi yang dibuang orang tuanya ditempat sampah. Dan sejak saya di Pare ada senior saya di kampus yang rajin SMS saya, ya awalnya saya gag curiga karena he’s not the only one! Tapi ternyata itu semakin berlanjut dan berlanjut hingga saya kembali ke Malang dan puncaknya ketika masa-masa orientasi mahasiswa baru. Semakin rajin SMS dan telpon tiap malam, seneng? Bangeeeet! (ikh, genit amat lo!). Biarin.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam bergani jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu sampai bulan berganti bulan. Kita semakin dekat dan tentu saya desir-desir gossip semakin merambah cepat bagai virus flu burung yang kayak jamur, kita digosipin pacaran! Wow,.. (jingkrak-jingkrak gag jelas). Dia nganggepnya pacaran, bahkan Coban Talun pernah menjadi tempat indah saat itu. Tapi bagi saya dia gag pernah ngomong secara langsung, gag pernah ngerasa ditembak kok. Dan akhirnyaaaaaaa, pada tanggal 1 januari 2011 lalu dia ngomong deh. Dan saya bingung harus ngomong apa, sahabat-sahabat saya mendukung itu tapi saya bingung juga jawabnya. Akhirnya dibantuin deh merangkai kata sama salah seorang dari mereka, sebut saja bunga. Kalo saya baca saat itu, bahasanya benar-benar gag banget. Lebhay. Tapi saya gag ada pilihan lain, ok sent!
Hore, saya punya pacar (lagi). Nyak saya sangat senang karena ternyata anaknya normal, akhirnya juga dengan agak gag percaya ada yang mau jadi pacarnya (itu cowok beneran baik-baik aja? gag sakit?). Ya, dia normal, dia baik, dan yang pasti (dia bilang) dia sayang saya. Tapi saya terlalu sibuk dnegan sahabat-sahabat saya waktu itu, gag pernah punya pacar membuat saya terlalu sayang dan terlalu bisa menghargai sahabat-sahabat saya. Saya selalu berfikir bahwa mereka segala-galanya, saya gag bisa hidup jika tanpa mereka. Saya bisa bertahan selama ini tanpa pacar tapi saya tidak yakin bisa bertahan sehari saja tanpa sahabat, saya bisa mati. Dan itulah awal sebuah bencana terjadi, dia merasa tersingkrihkan dan merasa tidak dianggap serta tidak dihargai sebagai seorang pacar. Dan pada saat itu saya sadar kalo saya tidak sepenuhnya sayang sama dia, bahkan saya sangat cuek dan tidak peduli sama sekali. Dia sendiri pernah bilang sama saya, dan saya merasa dibodohi (elo kali yang bodohi dia).
And then, tanggal 9 februari 2011 adalah hari pertama saya kembali ke Malang setelah liburan panjang yang membosankan yang membuat saya menjadi fesbuker sejati. Saat itu saya sudah merancang rencana liburan bersama sahabat saya, disitu saya sadar kalo saya jahat banget dengan todak memperdulikan dia dan malah pakek motornya buat jalan-jalan ke Pasuruan. He’s so kind man, and I am a worst girl! Hampir tengah malem hape saya bunyi, ada telfon. Bilang deh dia sama saya apa adanya, menanyakan tentang hubungan kita yang emang gag jelas dari sononya. Putus!
Terhitung sejak tangal 1 januari-9 februari saya pacaran, lumayan lama dari pada yang pertama, not tears. Perjuangan dimulai kembali. Setelah itu kita tetep biasa-biasa aja, cuma status yang membedakannya. Saya tahu kalo dia sangat sayang sama saya, tapi kesalahan saya adalah saya tidak menyadarinya dan diapun tahu jika saya sangat terobsesi dengan sahabatnya saat itu dan juga sahabat saya, benar-benar apa saya ini. (to be continue)
oww . . gitu ternyata kisah si punokawan ni ? ? xixixi
ReplyDeletePunokawan mbiahe kutilen a???
ReplyDelete